Beranda » Cerpen » Penyajian Tokoh dan Penokohan yang Menarik Bagi Pembaca

Penyajian Tokoh dan Penokohan yang Menarik Bagi Pembaca

T Diposting oleh pada 14 October 2020
F Kategori , , ,
b 1 komentar
@ Dilihat 19 kali

Tokoh dan Penokohan dalam Tulisan Prosa Fiksi

Di dalam tulisan fiksi, terutama yang berbentuk prosa, tokoh  dan penokohan merupakan bagian yang paling mutlak dijadikan bahan pembicaraan. Walaupun pada suatu karangan fiksi baik itu fiksi mini, cerpen, novelet atau bahkan novel, ada yang tidak menggunakan tokoh dengan nama, tetapi karangan tersebut tetap mencantumkan tokoh di dalamnya dengan sebutan “aku”, “dia”,”kamu” dan sebagainya.

Tokoh dalam cerita fiksi bisa berupa manusia, binatang, benda, dan lain-lain. Untuk itu, tokoh merupakan hal yang sangat penting untuk menghidupkan suatu cerita karena jika tidak ada tokoh, maka suatu karangan fiksi akan terasa mati atau mungkin ‘sulit’ untuk digolongkan menjadi karangan fiksi.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dalam Seputar Dunia Fiksi

Selain membutuhkan tokoh, karangan fiksi tentu juga sangat membutuhkan unsur penokohan sebagai ciri khas yang memeranaan karakter tokoh yang ada di dalamnya. Unsur penokohan dianggap lebih menarik dibicarakan dibandingkan unsur lainnya, karena melalui penokohan kita dapat menerima materi atau pembahasan yang semakin menghiasi suatu karangan cerita. Lantas, apakah tokoh dan penokohan adalah hal yang sama? Jawabannya, tidak! Tokoh adalah sosok yang mengambil peran di dalam cerita, sedangkan penokohan adalah watak atau karakter yang diperankan tokoh di dalam cerita.

Pada sebuah karangan fiksi terdapat tiga watak tokoh yang tentunya bukanlah hal yang asing lagi untuk dibahas:

  1. Tokoh Protagonis

Dalam sebuah karangan fiksi, protagonis juga sering disebut sebagai peran utama (tokoh inti). Tokoh ini memiliki peranan penting karena merupakan tokoh yang menjadi pusat perhatian pembaca.  Tokoh protagonis biasanya memerankan watak baik, ksatria, dan pahlawan.

  1. Tokoh Antagonis

Antagonis adalah tokoh yang menjadi penentang, berseberangan, atau berlawanan dengan tokoh protagonis. Akant tetapi, okoh antagonis juga bisa  menjadi tokoh yang menghalangi perjuangan tokoh protagonis untuk mencapai tujuan yang ingin ia capai. Karakter tokoh ini biasanya terkesan jahat, suka memfitnah, atau penyebar fitnah.

  1. Tokoh Tritagonis

Tritagonis adalah tokoh yang menjadi penengah antara tokoh antagonis dan protagonis. Watak yang digambarkan pun biasanya menampilakan sosok yang sederhana, berwibawa, kalem, bijaksana, dan memiliki wawasan yang luas.

Baca juga: Syarat Tulisan yang Baik

Untuk memberikan penyajian tokoh dan penokohan yang menarik bagi pembaca, hal-hal berikut bisa menjadi patokan untuk tidak lepas diperhatikan. Berikut adalah pemaparan lengkapnya:

  1. Gunakanlah tokoh sekadarnya saja.

Tokoh yang sekadarnya yang dimaksudkan di atas yakni menyajikan tokoh yang secukupnya saja. Tidak perlu memasukan tokoh yang tidak memiliki peran penting-penting amat karena hanya akan membuat cerita menjadi tidak menarik dibaca.  Gunakanlah tokoh-tokoh yang akan menajadi pendukung terbentuknya kisah yang menarik di dalam cerita yang dibuat, baik keseluruhan kisah, konflik, maupun keberlangsungan alur di dalamnya. Terlalu banyak tokoh di dalam cerita tidakhanya membuat pembaca bingung untuk memaknai cerita yang sedang mereka baca, tetapi juga akan membuat kita (sebagai penulis) kebingungan untuk menentukan karakter/penokohan yang akan digunakan. Namun, terlalu dikitnya tokoh juga akan membuat cerita yang kita buat menjadi tampat monoton dan tidak terlalu jelas. Untuk itu, gunakanlah tokoh yang cukup dan sekadarnya saja ya, Sobat.

  1. Gunakan Penokohan yang Konsisten.

Ketika menuliskan suatu cerita, konsisten tidak hanya terlibat dalam diri kita untuk berusaha menyelesaikan cerita yang kita buat, tetapi juga konsisten juga perlu ditanamkan untuk karakter tokoh yang digunakan dlaam tokoh tersebut. Konsisten akan membuat tokoh di dalm cerita menjadi makin jelas.  Saat sudah menemukan watak pada suatu tokoh, maka berupayalah untukk memertahankan watak yang sudah kita tentukan tersebut. Penyajian tokoh yang tidak konsisten akan membuat cerita tersebut menjadi aneh dan tdak masuk akal. Untuk itu, penyajian penokohan yang tidak konsisten itu sangat tidak diperkenankan.

  1. Jangan Biarkan  Karakter Kita Masuk ke dalam Penokohan yang Kita Buat.

Layaknya tokoh di dalam cerita, penulis yang merupakan tokoh yang memerankan cerita di kehidupan nyata juga memiliki karakter atau watak unik sendiri-sendiri. Karakter yang dikuasai suatu individu bermacam-macam dan terkadang akan berbeda dengan karakter yang dikuasai individu lainnya. Untuk itu, setiap penulis akan memiliki kepribadian atau karakter tertentu. Namun, karakter tersebut sangatlah perlu dicegah masuk ke dalam cerita yang kita buat, selain untuk mencalange diri kita sendiri untuk menciptakan karakter berbeda hal ini juga dimaksudkan agar cerita yang kita buat tidak gampang tertebak. Ciptakanlah sajian khusus pada masing-masing karakter tokoh di dalam cerita yang kita buat.

  1. Nama yang Digunakan pada Tokoh

Nama tokoh yang digunakan dalam cerita terkadang memang sedikit sepele untuk dipermasalahkan. Terkadang nama hanya dinilai sebagai pelengkap atau sekadar pemanis saja dan tidak terlalu penting untuk dipermasalahkan. Akan tetapi, nama merupakan hal yang juga tak bisa luput dari perhatian bagi para pembaca. Nama adalah salah satu unsur tokoh yang perlu dipikirkan matang-matang karena melalui nama tersebut juga dapat mempengaruhi penokohan ataupun tema yang akan diangkat. Jadi, menentukan nama dalam setiap cerita yang kamu buat jangan asal-asalan saja.

Misalnya, kita ingin membahas cerita dengan latar dimasa lampau, hendaknya kita menggunakan nama-nama yang mengkhaskan nama-nama orang di zaman dahulu. Seperti itu juga jika ingin mengisahkan orang-orang pedalaman yang tidak tersentu modernnya zaman.

Baca Juga: Bagaimana Cara Menemukan Potensi Menulis Bagi Penulis Pemula

Park Shin Hye, Kim Ji Won, Kim Soo Hyun, Song Hye Kyo, nama-nama tersebut merupakan nama yang awam untuk orang Indonesia dan mencirikan sebagai nama-nama orang yang ada di Korea. Nah, untuk kamu yang ingin mengisahkan cerita yang berhubungan dengan orang Korea gunakanlah nama di tersebut, jangan menggunakan nama Bambang, Ujang, Sri, dan lain-lain yang mencirikan nama-nama orang di Indonesia.

Bijak dan berhati-hatilah untuk menentukan nama di dalam cerita yang kamu garap. Pastikan nama tokoh yang kita sajikan cocok dengan keadaan yang diangkat di dalm cerita.

  1. Bedakan Antara Nama Tokoh Laki-Laki dan Perempuan.

Seperti halnya nama-nama tokoh di dunia nyata, nama yang digunakan dalam cerita fiksipun juga harus berbeda antara nama yang digunakan untuk tokoh perempuan dan tokoh laki-laki. Seperti halnya; Bambang, Ujang, Reno, Alex, Reno adalah contoh untuk nama yang digunakan tokoh laki-laki. Lain lagi dengan perempuan, kita bisa menggunakan nama Elsa, Sinta, Aziza, Vina, Tasya dan lain-lain. Hindarilah penggunaan  nama tokoh yang bisa digunakan untuk laki-laki dan perempuan karena akan membuat jalan cerita yang dipikirkan pembaca akan rancuh.

  1. Gunakanlah Nama Tokoh yang Berbeda-beda.

Dalam dunia nyata, nama yang sama akan membuat kita rancuh untuk mencari tahu orang yang dimaksud, begitu pulah di dalm suatu cerita. Untuk memudahkan kita(sebagai penulis) dan pembaca untuk membedakan antara satu tokoh dengan tokoh yang lain, maka gunakanlah nama-nama yang berbeda-beda.

Selain itu, penggunaan nama yang mirip pun sangatlah penting untuk dihindari agar pembaca tidak rancuh untuk memaknai cerita yang kita suguhkan. Seperti pada kejadan nyata, ketika kita dan teman kita memiliki nama panggilan yang sama  atau nama yang hampir mirip, tentu kita pun akan bingung mana yang dipanggil.

  1. Berikan Nama seperlunya.

Cerita yang melibatkan tokoh yang cukup banyak tidak perlu diberikan nama untuk kesemuanya, cukup tokoh-tokoh yang menjadi sentral cerita saja. Misalnya, sang tokoh yang sedang berhadapan dengan petugas tertentu maka kita tidak perlu membuat nama untuk petugas itu. Jadi, nama itu diberikan kepada tokoh-tokoh yang berperan penting dalam cerita. Bukan semua tokoh.

1 Komentar untuk Penyajian Tokoh dan Penokohan yang Menarik Bagi Pembaca

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

a Artikel Terkait Penyajian Tokoh dan Penokohan yang Menarik Bagi Pembaca

7 Hal yang Harus Diperhatikan dalam Menulis Karya Fiksi

T 19 October 2020 F , , , , , , A Author

Sebuah karya Fiksi – Tak sulit untuk menemukan buku-buku fiksi dimasa sekarang. Jika kita berjalan-jalan ke perpustakaan ataupun toko buku, terlihat buku fiksi merupakan buku yang paling sering diburu untuk diborong atau dipinjam. Buku fiksi cukup laris  dibandingkan dengan karya-karya... Selengkapnya

Cara Membuat Cover Buku Menarik Selayang Pandang

T 21 October 2020 F , , , , , , , A Author

Cover yang Menarik – Beberapa hari lalu saya menemani adik saya ke tokoh buku untuk mencari buku refrensi yang memuat tentang teori yang digunakan dalam penelitian skripsinya. Merasa bosan dengan pemandangan yang hanya menyuguhkan buku-buku berisikan teori serius, saya pun... Selengkapnya

Perbedaan dan Persamaan Novel dan Novelet

T 12 October 2020 F , A admin

Pengertian Novelet  Novelet merupakan salah satu karya sastra berbentu prosa fiksi yang ukurannya lebih kecil dari novel dan lebih besar dari cerpen. Ukuran yang dimaksudkan bukanlah dari segi bentuknya, tetapi dari isi di dalamnya yang biasanya lebih tebal dari cerpen... Selengkapnya

+ SIDEBAR
Menulis Puisi Dapat Duit

Ada Pertanyaan? Silahkan hubungi customer service kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai jasa/produk kami.