Beranda » Cerpen » Penggunaan Gaya Bahasa yang Menarik Pada Cerpen

Penggunaan Gaya Bahasa yang Menarik Pada Cerpen

T Diposting oleh pada 14 October 2020
F Kategori ,
b 1 komentar
@ Dilihat 59 kali

Pengertian Gaya Bahasa

Albertine (2005: 51) berpendapat, gaya bahasa adalah bahasa yang bermula dari bahasa yang biasa digunakan dalam gaya tradisional dan literal untuk menjelaskan orang atau objek. Dengan menggunakan gaya bahasa, pemaparan imajinatif menjadi lebih segar dan berkesan.

Gaya bahasa atau yang juga dikenal dengan majas adalah salah satu bentuk pengekpresian yang digunakan pengarang untuk mengungkapkan pemikiran atau idenya dengan bahasa yang bergaya khas pada suatu karya tulis, berbentuk retorik berupa pengaturan kata-kata atau kalimat  sebagai bahan untuk mempengaruhi pembaca. Selain itu, gaya bahasa biasanya berkaitan dengan situasi dan suasana dalam suatu perasaan dan keadaan tertentu, seperti kesan baik atau  buruk, ketidak nyamanan, kesenangan, dan lain-lain.

Salah satu karya tulis yang tidak akan lepas dari berbagai gaya bahasa yaitu cerpen. Seperti yang kita ketahui, gaya bahasa merupakan salah satu unsur pembangun dalam cerpen yang tentunya sangatlah menarik untuk dipelajari. Tujuan penggunaan gaya bahasa dalam cerpen adalah untuk meningkatkan nilai estetika disetiap kalimatnya agar pembaca dapat merasakan efek emosional dalam cerita yang disuguhkan.

Cerpen adalah jenis karya sastra berbentuk prosa fiksi, terdiri atas 1.000 -10.000 kata, berisikan karangan naratif fiktif yang dapat dibaca sekali duduk. Isi yang dibahas di dalam cerpen mengenai permasalahan yang dialami tokoh di dalamnya dalam situasi tertentu yang penuh konflik, peristiwa, dan pengalaman.  Penggunaan gaya bahasa di dalam cerpen sangatlah beragam, biasa digunakan di dalam narasi maupun dialog cerita. Akan tetapi, konflik, pristiwa, dan pengelaman itulah yang banyak menyisipkan gaya bahasa dalam diksi yang digunkan di dalamnya.

Baca Juga:3 Manfaat Menulis Secara Umum

 Macam-Macam Gaya Bahasa di dalam Cerpen

Secara garis besar, penggunaan gaya bahasa pada suatu karya sastra terutama cerpen tergolong menjadi empat bagian, yaitu: gaya bahasa pertentangan, gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa sindiran, dan gaya bahasa penegasan. Untuk lebih jelasnya, gaya bahas akan dibahas sebagai berikut:

  1. Gaya Bahasa Pertentangan

Gaya bahasa pertentangan adalah salah satu bentuk gaya bahasa yang menggunakan kata-kata kiasan berisikan bertentangan dengan hal-hal yang dimaksudkan sesungguhnya. Tujuan digunakannya jenis gaya bahasa ini adalah untuk memberi kesan dan pengaruh terhadap suatu pembahasan kepada pembaca.

Berikut ini macam-macam gaya bahasa pertentangan yang sering digunakan dalam cerpen dan karya sastra lainnya:

1. Majas Paradoks

Gaya bahasa ini menampilkan penggambaran seolah-olah antarbagiannya menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan keadaan.

Contoh :

  1. Aku tetap merasakan kesepian meski orang-orang di sekitarku ini sedang riuh merayakan pesta.
  2. Dia tetap tersenyum meski hatinya sedang bersedih.
  3. Orang itu tidak punya rumah meski berpenghasilan besar.

2. Majas Hiperbola

Gaya bahasa jenis ini mengungkapkan sesuatu pernyataan dengan kesan berlebihan dari kenyataan, bahkan hampir tidak masuk akal. Tujuan dari macas ini adalah untuk mendapatkan perhatian dengan kesan yang mendalam.

Contoh:

  1. Pesona indah wajahmu mengalihkan duniaku
  2. Suaranya menggelegar membelah suasana ruangan itu

3. Majas Antitesis

Gaya bahasa ini menggunakan pasangan kata yang digunakan yang berlawanan arti dengan sesungguhnya.

Contoh:

  1. a) Miskin atau kaya, Tuhan akan memberi penilaian yang sama.
  2. b) besar kecil, tua muda, semua berbondong menyaksikan atraksi itu.
  3. ) Mau cantik atau jelek, tetap saja aku memilihmu.

4. Majas Litotes

Gaya bahasa ini mengungkapkan sesuatu yang berlawanan dengan dari kenyataan dengan cara mengecilkan dan mengurangi yang bertujuan untuk merendahkan diri.

Contoh:

  1. Saya tak pentas menerima perlakuan baik itu
  2. Makan saja seadanya dengan nasi dan air putih

 

2. Gaya Bahasa Perbandingan

Gaya bahasa atau majas perbandingan ditujukan untuk menyandingkan atau membandingkan suatu objek dengan objek lainnya, dengan melalui proses penyamaan, penggantian, atau pelebihan.

Berikut pembagian macam-macam gaya bahasa perbandingan yang sering digunakan dalam sebuah cerpen atau karya sastra lainnya:

1. Majas Personifikasi

Gaya bahasa jenis ini membandingkan fungsi benda mati seolah-olah dapat bersikap layaknya manusia.

Contoh:

  1. Daun nyiur melambai-lambai di tepi pantai
  2. Angin ribut meruntuhkan rumah-rumah warga
  3. Ombak menghempaskan diri ke karang-karang lemah itu.

2. Majas Metafora

Gaya Bahasa jenis ini menggunakan pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan kelompok yang sebenarnya.

Contoh:

  1. Dia dianak emaskan guru-guru di sekolah
  2. Uangnya dikuras lintah darat
  3. Tulisanku adalah harta karun yang harus diamankan

3.  Majas Asosiasi

Gaya bahasa ini membandingkan dua hal yang berbeda tetapi dianggap sama. Gaya bahsa ini ditandai dengan memberikan kata sambung bak, bagaikan, seperti.

Contoh:

  1. Semangat kerasnya bagaikan baja
  2. Bak pungguk merindukan rembulan
  3. Wajahnya pucat seperti mayat

4.  Majas Metonimia

Metonimia adalah gaya bahasa yang menyandingkan merek, ciri khas, atribut, atau istilah sesuatu untuk merujuk pada benda umum.

Contoh:

  1. Ayo kita pergi naik honda (maksudnya naik sepeda motor).
  2. Sarapanku dengan indomie (makan mi instan)
  3. Ayah dari jawa menggunakan garuda (naik pesawat terbang)

5. Majas Simile

Simile menggunakan pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang menggunakan kata penghubung bak, bagaikan, ataupun seperti. Namun, simile menyandingkan sebuah kegiatan dengan ungkapan.

Contoh:

  1. Kelakuannya bak anak ayam kehilangan induknya.
  2. Kau bagaikan langit dan aku bagaikan buminya.

6. Majas Alegori

Alegori adalah jenis gaya bahasa yang menyandingkan suatu objek dengan kata-kata kiasan atau penggambaran.

Contoh:

  1. Perlombaan mendapatkan hati, jurinya adalah perasaan.
  2. Jalani saja seperti air yang mengalir
  3. Menyusuri pegunungan yang tak dapat ditebak keadaan anginnya.

7. Majas Sinekdok

Sinekdot adalah gaya bahasa yang penyebtan bagian untuk menggantikan benda secara keseluruhan maupun sebaliknya.

Gaya bahasa ini terdiri atas:

  1. Sinekdok Pars Pro Toto: gaya bahasa yang menyebutkan unsur dalam menampilkan keseluruhan sebuah benda.

Contoh: Hingga senja tiba, Nur masih tak kelihatan batang hidungnya.

  1. Sinekdok Totem Pro Parte: kebalikannya, yaitu gaya bahasa yang menyuguhkan keseluruhan hal yang merujuk pada sebagian benda atau situasi.

Contoh: Kelas itu akan menjadi idola di sekolah ini

8. Majas Simbolik

Majas simbolik adalah gaya bahasa yang membandingkan manusia dengan mempergunakan benda, binatang atau tumbuhan sebagai lambang  atau simbol.

Contoh:

  1. Ia terkenal dengan buaya darat
  2. Di depan gang ada bendera kuning
  3. Kantorku habis dilalap si jago merah

Baca Juga:4 Langkah Mudah Mengedit Naskah Sendiri

  1. Gaya Bahasa Sindiran

Gaya bahasa ini digunakan sebagai kata-kata berkhias yang menyatakan sindiran untuk meningkatkan kesan terhadap pembaca.

Macam-macam gaya bahasa berikutnya adalah gaya bahasa sindiran. Sesuai dengan namanya, gaya bahasa atau majas ini bertujuan untuk menyindir seseorang atau perilaku hingga kondisi tertentu.

Berikut pembagian macam-macam gaya bahasa sindiran:

1. Majas Ironi

Ironi menggunakan gaya bahasa yang digunakan untuk  menentang dengan fakta yang ada.

Contoh:

  1. Sejuk sekali ruangan ini sampai keringat bercucuran tak henti-henti
  2. Ini baru siswa teladan, setiap hari datang terlambat

2. Majas Sinisme

Sinisme adalah gaya bahasa yang menyampaikan sindiran secara langsung.

Contoh:

  1. Kotor sekali ruangan ini debu bertebaran di mana-mana
  2. Lama-lama aku bisa gila melihat tingkahmu

3. Majas Sarkasme

Sarkasme adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyampaikan sindiran secara kasar.

Contoh:

  1. Dia hanya sampah masyarakat yang tak ada gunanya!
  2. Mau muntah aku memandang wajahmu, pergilah!

Baca juga: 3 Cara Menghasilkan Uang Dari Menulis

  1. Gaya Bahasa Sindiran

Gaya Bahasa bertujuan untuk meningkatkan pengaruh terhadap para pembaca untuk menyetujui ujaran atau kejadian yang diungkapkan. Macam-macam gaya bahasa penegasan:

1. Majas Pleonasme

Gaya nahasa ini memanfaatkan kata-kata yang memiliki makna sama untuk menegaskan suatu hal sehingga terkesan tidak efektif.

Contoh:

  1. Kita harus maju ke depan agar bisa sukses.
  2. Mereka mendongak ke atas menyaksikan pertunjukan layang-layang

2. Majas Repetisi

Gaya bahasa repetisi ini perulangan kata-kata dalam sebuah kalimat.

Contoh:

Cinta adalah pengertian. Cinta adalah persamaan. Dan, cinta adalah kesatuan.

3. Majas Retorika

Gaya bahasa ini memberikan penegasan dalam kalimat tanya yang sesungguhnya tidak perlu dijawab.

Contoh:

Kapan Aku pernah memintamu untuk tidak berbohong?

4. Majas Klimaks

Gaya bahasa ini mengurutkan dari tingkatan terendah ke tertinggi.

Contoh:

Bayi, anak kecil, remaja, orang dewasa, hingga orang tua seharusnya memiliki hak yang sama untuk bahagia.

5. Majas Antiklimaks

Gaya bahasa yang berbalik dari klimaks, yaitu menegaskan sesuatu dengan mengurutkan suatu dari tingkatan tinggi ke tingkatan rendah.

Contoh:

Tua, muda, juga anak-anak punya hak yang sama untuk bahagia.

6. Majas Tautologi

Tautologi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata bersinonim untuk menegaskan sebuah kondisi atu keadaan.

Contoh:

Harusnya hidup bertangga kita menjadi rukun, damai, dan akur selalu.

Klik disini untuk melihat jasa layanan kami

Nah, itulah majas yang sering kita temui pada sebuah cerpen, Sobat. Namun, majas-majas ini juga dapat kita temukan di jenis prosa fiksi lainnya seperti novel, novela, dan roman. Selain itu, majas-majas ini juga kerap kita temukan di puisi dan teks drama.

1 Komentar untuk Penggunaan Gaya Bahasa yang Menarik Pada Cerpen

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

a Artikel Terkait Penggunaan Gaya Bahasa yang Menarik Pada Cerpen

4 Langkah Mudah Mengedit Naskah Sendiri

T 12 October 2020 F , A admin

Cara Penyuntingan Naskah – Setelah naskah selesai ditulis, langkah yang harus kamu lakukan pada naskahmu adalah proses penyuntingan atau editing. Proses ini tak kalah pentingnya, dengan dilakukan proses editing sebuah naskah akan diolah menjadi tulisan yang lebih matang lagi, lebih... Selengkapnya

Jenis-jenis Penerbitan yang Populer di Indonesia

T 23 October 2020 F , , , , , , , A Author

Tentang Penerbitan – Secara umum, penerbitan atau juga dikenal dengan istilah publishing kerap merujuk pada suatu produksi dan distribusi buku dalam bentuk cetak. Adapun individu yang berkecimpung menjadi pemimpin organsasi atau perusahaan penerbitan tersebut sering kali dikenal dengan nama penerbit.... Selengkapnya

5 Langkah Menulis Cerita Fantasi yang Meyakinkan

T 21 October 2020 F , , , , , A Author

Menulis cerita fantasi merupakan salah satu proses menulis yang sangat menyenangkan. Untuk membuat cerita bergendre ini, hal yang harus kita lakukan agar cerita tampak realistis adalah dengan mendeskripsikan latar dengan mendetail, mengembangkan daya khayal yang supernatural, menciptakan tokoh fiksi yang... Selengkapnya

+ SIDEBAR
Menulis Puisi Dapat Duit

Ada Pertanyaan? Silahkan hubungi customer service kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai jasa/produk kami.